Valentine's Day Pumping Heart

Mas Harry Banjar

Hanya ingin berbagi.

Mas Harry Banjar

Hanya ingin berbagi.

Mas Harry Banjar

Hanya ingin berbagi.

Mas Harry Banjar

Hanya ingin berbagi.

Mas Harry Banjar

Hanya ingin berbagi.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Kesalahan Didik Orang Tua yang Berpengaruh pada Anak

Ada beberapa kesalahan seorang ibu terhadap anak-anaknya yang sering kali dianggap sepele, padahal sebenarnya memiliki efek yang berbahaya untuk psikologis anak.

   Apa sajakah kesalahan tersebut dan bagaimana meluruskannya? Berikut beberapa tips yang kami ambil dari laman ummi-online.com :

1. Tidak memperhatikan ketika anak bicara
   Ini adalah kesalahan fatal. Ibu asyik menonton ketika anak mengajak bicara. Atau, ibu seru dengan gadget ketika anak ingin diperhatikan. Malah terkadang menghardik anak karena merasa mereka sungguh mengganggu.
   Alangkah baiknya ketika anak mengajak ibu berbicara, tataplah matanya dan beri ia perhatian dengan benar-benar menyimak perkataannya. Beri sentuhan dan pelukan jika diperlukan.
   Memang anak-anak sering kali terlalu cerewet dan terus-menerus mengulang pertanyaan yang sama, mungkin ibu merasa jengkel, tapi sadarilah bahwa waktu itu tak akan kembali. Mereka akan segera tumbuh dewasa dan kita kehilangan momen kecil mereka.
   Maka, hentikan dulu kegiatan menonton, mendengar musik, atau bermain sosmed ketika anak mengajak kita untuk bercerita. Seorang ibu yang mau mendengarkan anak-anaknya kelak akan merasakan manfaatnya.
   Ketika anak tumbuh remaja, mereka akan merasa nyaman untuk bercerita pada ibunya ketimbang teman di sekolah. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang cukup kasih sayang dan perhatian, serta menjadi anak yang percaya diri karena mendapat sokongan penuh dari ibunda tercinta sejak kecil.
Maka mulai sekarang, beri perhatian ketika anak mengajak mengobrol.

2. Membantu anak mencari ‘kambing hitam’
“Uuuh, dedek jatuh yaa, ini lantainya nakal, mama pukul nih lantainya!”
   Cara seperti ini mungkin terlihat lucu dan membuat anak berhenti menangis, tapi secara psikologis anak akan segera menirunya.
   Anak cepat belajar bahwa ketika ada sesuatu yang tidak beres, carilah kambing hitam untuk dipersalahkan!
   Tidak mengherankan ketika ia tumbuh besar, anak akan menjadi pribadi yang selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain ketimbang diri sendiri.
   Jadi, daripada berbuat demikian, lebih baik ibu langsung memeluk anak dan mengatakan padanya untuk berhati-hati, “Kalau adik lebih hati-hati berlarinya, insyaa Allah tidak akan terjatuh! Lain kali lebih hati-hati ya sayang…”

3. Merapikan barang yang habis dimainkan anak
   Memang cara ini lebih cepat dan efektif membuat rumah rapi, tapi sadarilah bahwa terus-terusan membereskan mainan anak yang bergelimpangan di lantai sama saja membentuk kebiasaan anak untuk tidak disiplin.
   Sebagai ibu, kita perlu mendidik anak agar memiliki karakter disiplin. Boleh mainan dengan berantakan, tapi setelah itu harus dirapikan sendiri. Ajari anak untuk membereskan barang-barangnya dengan cara yang menyenangkan.
   Jangan selalu menjadikan diri ibu sebagai super hero yang selalu membereskan masalah anak-anak. Makanan berantakan, ibu yang membereskan. Mainan berhamburan, ibu juga yang membereskan. Kapan anak-anak diajarkan untuk mandiri dan bertanggungjawab?
  Kita perlu menyadari bahwa suatu saat kita tidak akan ada lagi di dunia ini, jangan sampai meninggalkan anak-anak yang lemah dan tidak bisa apa-apa tanpa ibu mereka.

4. Menyelak antrian
    Banyak ibu yang justru mengajarkan anak untuk menyelak antrian, misalnya ketika memasuki kereta, ketika sedang antri membeli tiket, antri membayar di kasir, antri di SPBU, atau bahkan ada juga ibu yang menyelak lampu merah di jalan raya padahal sedang membonceng anak.
    Sesungguhnya ini adalah hal yang terlihat lumrah di Indonesia, tapi menjadi akar ketertinggalan kita dibandingkan negara maju. Anak-anak di negara maju justru diajarkan untuk tertib mengantri, mereka malahan malu jika menyelak antrian.
    Maka, sadarilah ibu bahwa mendidik anak perlu dengan mencontohkan langsung. Katakan pada mereka untuk belajar bersabar dan menghargai hak orang lain dengan mengantri dan menunggu giliran.

5. Hampir selalu meminta kakak mengalah pada adik
    Satu hal lagi yang terlihat sepele padahal berdampak besar adalah kebiasaan ibu menyuruh kakak untuk mengalah pada adik.
    Ketika kakak sedang asyik bermain boneka dan kemudian adik memintanya, biasanya ibu akan memenangkan adik dan sang kakak harus merasa dongkol karena ia selalu dikalahkan.
    Cobalah untuk membuat aturan baru, siapa pun yang sudah duluan bermain, maka yang ingin memakai mainan tersebut harus sabar menunggu giliran. Hal ini justru lebih adil daripada terus-menerus menyuruh sang kakak mengalah tanpa ia paham mengapa dirinya harus selalu mengalah, padahal ia tidak pernah meminta dilahirkan duluan.
   Biarkan kakak dan adik saling menyayangi dan berbagi, juga ajarkan mereka untuk saling menghormati dan menghargai. Kakak tidak harus selalu mengalah, adik tidak harus selalu kolokan, semuanya tergantung didikan dari ibu dan ayah.

Semoga postingan ini bermanfaat.

Selasa, 21 Januari 2014

Guru 3P (Pengajar, Pendidik, dan Pemimpin)

Ilustrasi. (inet)Kalau kita lihat pada masa perjuangan pendidikan di negara kita, terutama pada saat proklamasi kemerdekaan. Yang paling berjasa pada saat itu adalah guru. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa ‘Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’, artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu. Peningkatan mutu bermuara pada satu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru. Guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Hebat atau rusaknya pemimpin baru yang dilahirkan bisa sangat dipengaruhi oleh sosok guru.


Indonesia adalah negara yang sedang mengalami perkembangan dari segi system pendidikan, namun jika kita lihat lebih dekat lagi bagaimana kondisi anak-anak muda saat ini adalah sangat memprihatinkan. Anak muda Indonesia tiba-tiba terjebak kasus narkoba, terbukti melakukan seks bebas, tidak ada lagi murid yang patuh pada gurunya, banyak murid yang melawan, seolah tidak ada didikan kedisiplinan dari sang guru. Kasihan deh anak-anak muda Indonesia. Para figure public idola mereka tak konsisten memberikan keteladanan, akibatnya, anak muda zaman sekarang menjelajah sendiri model yang diciptakan kelompok mereka sendiri untuk memuaskan hasrat pencarian jati diri mereka. Melihat kondisi pemuda Indonesia yang seperti ini, tidak ada lain yang patut menjadi idola dan teladan bagi mereka adalah guru, Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru mempunyai tiga peran, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik, dan guru sebagai pemimpin.

Guru sebagai pengajar, dalam konsep pertama guru pengajar adalah guru yang hanya mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa sehingga pada batasan ini hanya pada tataran transfer of knowledge. Kedua adalah guru sebagai pendidik, bila dibandingkan pada kategori pertama karakter guru dalam tataran ini tidak hanya sebatas pada transfer of knowledge tapi juga transfer of value, penanaman nilai kepada siswa menjadi aspek penting karena pengetahuan tidak akan seimbang bila sikap arif dalam diri terkebiri, dan karakter yang terakhir yaitu guru sebagai  pemimpin merupakan guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Saya sangat sepakat dengan gagasan Pak Asep Sapaat, Guru itu pemimpin. Meski bukan seorang bintang idola, tapi sadarilah bahwa guru bisa melahirkan bintang-bintang idola yang akan menjadi generasi pengganti dan berjiwa pemimpin. Pemimpin bicara soal ide dan harapan masa depan. Idenya tak melulu soal bagaimana meraih status pegawai negeri sipil, mendapat tunjangan sertifikasi, meraih jabatan struktural, dan kenikmatan dunia untuk diri sendiri.  Guru pemimpin, paham manfaatnya sangat besar untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Ide dan harapannya tak berorientasi AKU, tapi MEREKA, anak-anak muda Indonesia yang mesti tumbuh berkembang jiwa-jiwa kepemimpinannya. Hidup yang merdeka adalah ciri seorang guru pemimpin. Mereka tak takut dengan atasan. Mereka tak silau dengan harta dan jabatan. Hanya satu yang mereka takutkan, cara berpikir dan bersikapnya jauh dari nilai-nilai kebenaran.

Satu hal yang patut dicermati, guru memang takkan pernah jadi pemimpin jika dia miskin integritas. Karena miskin integritas, guru tak memiliki karisma dan inspirasi di mata murid-murid.  Jika guru sudah tak inspiratif bagi murid, maka konsepsi guru sebagai sosok pemimpin memang hanya akan menjadi wacana saja. Guru juga butuh figur pemimpin yang setia memberikan keteladanan. Tak lupa system yang mendukung mewudnya karakter kepemimpinan guru. Pak Sidharta Susila dalam gagasannya menjelaskan bahwa kita mesti menciptakan ruang istimewa untuk memupuk benih karakter kepemimpinan anak-anak kita, calon pemimpin masa depan Indonesia. Sekolah adalah ruang berperistiwa yang bisa dimanfaatkan guru untuk mendidik calon-calon pemimpin. Sayangnya ruang berperistiwa ini tak dikawal system dan orang berkarakter pemimpin. Tapi pimpinan yang lebih nyaman memanipulasi dari pada mendorong semua sumber daya yang dimiliki sekolah.

Tentunya kita sebagai seorang muslim pasti butuh bekal yang cukup banyak untuk hidup yang hakiki kelak di akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat ada pada profesi guru. Selain mendapat penghargaan di dunia, guru juga mendapat balasan kelak di akhirat. Karena guru merupakan pengemban amanah para nabi dan orang-orang shalih. Orang yang mengikuti jejak langkah para nabi dan orang-orang shalih tidak lain balasannya adalah surga.

Banggalah kita yang sekarang menjadi guru, sebagai pewaris para nabi dan diberikan ilmu oleh sang pemberi ilmu. Itulah beberapa alasan kenapa sekarang aku bangga menjadi guru, memilih guru sebagai profesi utama. Karena sebenarnya tanpa kita sadari, setiap hari kita adalah guru, yang membedakan adalah kita berada dalam system atau tidak, dan guru menurutku adalah profesi terbaik. Allah pun telah berjanji dalam kitabnya akan mengangkat derajat yang beriman dan orang-orang yang berilmu.

Saya berharap semoga Allah selalu membimbing saya dan semua guru, menjadi guru sebagai profesi terbaik dan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Minggu, 27 Januari 2013

7 Pertimbangan dalam Memilih Sekolah untuk Anak

Setiap orang tua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Pendidikan adalah 'investasi jangka panjang' untuk kesuksesan anak di masa datang. Oleh sebab itu orang tua tidak akan sembarangan dalam memilih sekolah untuk anaknya.

Orang tua rela membayar mahal demi meraih pendidikan yang berkualitas. Namun, sebenarnya apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak Anda? Menurut Psikolog dan pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, dikutip dari Kompas.com, Setidaknya ada 7 kriteria yang menjadi acuan orang tua dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak.
  1. Lihat visi misi sekolah tersebut. Visi misi sekolah akan menentukan kurikulum yang digunakan. Sesuaikah visi misi sekolah tersebut dengan pandangan pendidikan di keluarga dan harapan orangtua?
  2. Pertimbangkan sekolah bagus dengan tenaga pengajar yang bagus juga. Guru adalah ujung tombak yang menentukan anak akan belajar dan bermain dengan menyenangkan atau tidak.
  3. Perhatikan kondisi sekolah dan lingkungan di sekitarnya, termasuk kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah. Cukupkah untuk mendukung proses belajar-mengajar yang menyenangkan bagi anak?
  4. Perhitungkan jarak sekolah dari rumah. Jangan sampai terlalu jauh sehingga anak lelah di jalan dan tidak semangat belajar.
  5. Kenali karakter anak dan kebutuhannya untuk menentukan sekolah yang sesuai dengan anak. Misalnya, anak yang suka bergerak cocok disekolahkan di sekolah alam.
  6. Pengenalan akan karakter dan kebutuhan juga membantu mengenali durasi bersekolah dan komposisi durasi pengajaran di sekolah, misalnya dengan untuk menentukan butuh sekolah dengan durasi yang lebih banyak waktu bermain atau belajar.
  7. And last but not least, pikirkan matang-matang kemampuan finansial Anda untuk membayar segala biaya yang dibutuhkan, baik uang pangkal maupun uang bulanan ke depannya. Pastikan Anda memiliki sumber-sumber dana yang cukup untuk konsisten membayar ke depannya.

Biaya yang mahal belum tentu menetukan kualitas sekolah. Di masa sekarang ini, dalam memilih sekolah tidak hanya sekedar fasilitas sekolah yang serba tersedia, orang tua juga harus cermat dan cerdas dalam memilihkan sekolah untuk anaknya tersayang. Sekolah yang tepat akan memberikan dampak yang besar bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak.

Selain mempertimbangkan tujuh kriteria di atas, orang tua juga harus melibatkan anak dalam meilih sekolah. Orang tua mengetahui kriteria apa yang patut dipertimbangkan dan mengenali lebih dulu kebutuhan anak-anak dalam pendidikan. Caranya, anak diberikan hak bersuara untuk menentukan sekolah yang menyenangkan baginya untuk belajar dan bermain.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Kesalahan Didik Orang Tua yang Berpengaruh pada Anak

Ada beberapa kesalahan seorang ibu terhadap anak-anaknya yang sering kali dianggap sepele, padahal sebenarnya memiliki efek yang berbahaya untuk psikologis anak.

   Apa sajakah kesalahan tersebut dan bagaimana meluruskannya? Berikut beberapa tips yang kami ambil dari laman ummi-online.com :

1. Tidak memperhatikan ketika anak bicara
   Ini adalah kesalahan fatal. Ibu asyik menonton ketika anak mengajak bicara. Atau, ibu seru dengan gadget ketika anak ingin diperhatikan. Malah terkadang menghardik anak karena merasa mereka sungguh mengganggu.
   Alangkah baiknya ketika anak mengajak ibu berbicara, tataplah matanya dan beri ia perhatian dengan benar-benar menyimak perkataannya. Beri sentuhan dan pelukan jika diperlukan.
   Memang anak-anak sering kali terlalu cerewet dan terus-menerus mengulang pertanyaan yang sama, mungkin ibu merasa jengkel, tapi sadarilah bahwa waktu itu tak akan kembali. Mereka akan segera tumbuh dewasa dan kita kehilangan momen kecil mereka.
   Maka, hentikan dulu kegiatan menonton, mendengar musik, atau bermain sosmed ketika anak mengajak kita untuk bercerita. Seorang ibu yang mau mendengarkan anak-anaknya kelak akan merasakan manfaatnya.
   Ketika anak tumbuh remaja, mereka akan merasa nyaman untuk bercerita pada ibunya ketimbang teman di sekolah. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang cukup kasih sayang dan perhatian, serta menjadi anak yang percaya diri karena mendapat sokongan penuh dari ibunda tercinta sejak kecil.
Maka mulai sekarang, beri perhatian ketika anak mengajak mengobrol.

2. Membantu anak mencari ‘kambing hitam’
“Uuuh, dedek jatuh yaa, ini lantainya nakal, mama pukul nih lantainya!”
   Cara seperti ini mungkin terlihat lucu dan membuat anak berhenti menangis, tapi secara psikologis anak akan segera menirunya.
   Anak cepat belajar bahwa ketika ada sesuatu yang tidak beres, carilah kambing hitam untuk dipersalahkan!
   Tidak mengherankan ketika ia tumbuh besar, anak akan menjadi pribadi yang selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain ketimbang diri sendiri.
   Jadi, daripada berbuat demikian, lebih baik ibu langsung memeluk anak dan mengatakan padanya untuk berhati-hati, “Kalau adik lebih hati-hati berlarinya, insyaa Allah tidak akan terjatuh! Lain kali lebih hati-hati ya sayang…”

3. Merapikan barang yang habis dimainkan anak
   Memang cara ini lebih cepat dan efektif membuat rumah rapi, tapi sadarilah bahwa terus-terusan membereskan mainan anak yang bergelimpangan di lantai sama saja membentuk kebiasaan anak untuk tidak disiplin.
   Sebagai ibu, kita perlu mendidik anak agar memiliki karakter disiplin. Boleh mainan dengan berantakan, tapi setelah itu harus dirapikan sendiri. Ajari anak untuk membereskan barang-barangnya dengan cara yang menyenangkan.
   Jangan selalu menjadikan diri ibu sebagai super hero yang selalu membereskan masalah anak-anak. Makanan berantakan, ibu yang membereskan. Mainan berhamburan, ibu juga yang membereskan. Kapan anak-anak diajarkan untuk mandiri dan bertanggungjawab?
  Kita perlu menyadari bahwa suatu saat kita tidak akan ada lagi di dunia ini, jangan sampai meninggalkan anak-anak yang lemah dan tidak bisa apa-apa tanpa ibu mereka.

4. Menyelak antrian
    Banyak ibu yang justru mengajarkan anak untuk menyelak antrian, misalnya ketika memasuki kereta, ketika sedang antri membeli tiket, antri membayar di kasir, antri di SPBU, atau bahkan ada juga ibu yang menyelak lampu merah di jalan raya padahal sedang membonceng anak.
    Sesungguhnya ini adalah hal yang terlihat lumrah di Indonesia, tapi menjadi akar ketertinggalan kita dibandingkan negara maju. Anak-anak di negara maju justru diajarkan untuk tertib mengantri, mereka malahan malu jika menyelak antrian.
    Maka, sadarilah ibu bahwa mendidik anak perlu dengan mencontohkan langsung. Katakan pada mereka untuk belajar bersabar dan menghargai hak orang lain dengan mengantri dan menunggu giliran.

5. Hampir selalu meminta kakak mengalah pada adik
    Satu hal lagi yang terlihat sepele padahal berdampak besar adalah kebiasaan ibu menyuruh kakak untuk mengalah pada adik.
    Ketika kakak sedang asyik bermain boneka dan kemudian adik memintanya, biasanya ibu akan memenangkan adik dan sang kakak harus merasa dongkol karena ia selalu dikalahkan.
    Cobalah untuk membuat aturan baru, siapa pun yang sudah duluan bermain, maka yang ingin memakai mainan tersebut harus sabar menunggu giliran. Hal ini justru lebih adil daripada terus-menerus menyuruh sang kakak mengalah tanpa ia paham mengapa dirinya harus selalu mengalah, padahal ia tidak pernah meminta dilahirkan duluan.
   Biarkan kakak dan adik saling menyayangi dan berbagi, juga ajarkan mereka untuk saling menghormati dan menghargai. Kakak tidak harus selalu mengalah, adik tidak harus selalu kolokan, semuanya tergantung didikan dari ibu dan ayah.

Semoga postingan ini bermanfaat.

Selasa, 21 Januari 2014

Guru 3P (Pengajar, Pendidik, dan Pemimpin)

Ilustrasi. (inet)Kalau kita lihat pada masa perjuangan pendidikan di negara kita, terutama pada saat proklamasi kemerdekaan. Yang paling berjasa pada saat itu adalah guru. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa ‘Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’, artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu. Peningkatan mutu bermuara pada satu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru. Guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Hebat atau rusaknya pemimpin baru yang dilahirkan bisa sangat dipengaruhi oleh sosok guru.


Indonesia adalah negara yang sedang mengalami perkembangan dari segi system pendidikan, namun jika kita lihat lebih dekat lagi bagaimana kondisi anak-anak muda saat ini adalah sangat memprihatinkan. Anak muda Indonesia tiba-tiba terjebak kasus narkoba, terbukti melakukan seks bebas, tidak ada lagi murid yang patuh pada gurunya, banyak murid yang melawan, seolah tidak ada didikan kedisiplinan dari sang guru. Kasihan deh anak-anak muda Indonesia. Para figure public idola mereka tak konsisten memberikan keteladanan, akibatnya, anak muda zaman sekarang menjelajah sendiri model yang diciptakan kelompok mereka sendiri untuk memuaskan hasrat pencarian jati diri mereka. Melihat kondisi pemuda Indonesia yang seperti ini, tidak ada lain yang patut menjadi idola dan teladan bagi mereka adalah guru, Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru mempunyai tiga peran, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik, dan guru sebagai pemimpin.

Guru sebagai pengajar, dalam konsep pertama guru pengajar adalah guru yang hanya mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa sehingga pada batasan ini hanya pada tataran transfer of knowledge. Kedua adalah guru sebagai pendidik, bila dibandingkan pada kategori pertama karakter guru dalam tataran ini tidak hanya sebatas pada transfer of knowledge tapi juga transfer of value, penanaman nilai kepada siswa menjadi aspek penting karena pengetahuan tidak akan seimbang bila sikap arif dalam diri terkebiri, dan karakter yang terakhir yaitu guru sebagai  pemimpin merupakan guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Saya sangat sepakat dengan gagasan Pak Asep Sapaat, Guru itu pemimpin. Meski bukan seorang bintang idola, tapi sadarilah bahwa guru bisa melahirkan bintang-bintang idola yang akan menjadi generasi pengganti dan berjiwa pemimpin. Pemimpin bicara soal ide dan harapan masa depan. Idenya tak melulu soal bagaimana meraih status pegawai negeri sipil, mendapat tunjangan sertifikasi, meraih jabatan struktural, dan kenikmatan dunia untuk diri sendiri.  Guru pemimpin, paham manfaatnya sangat besar untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Ide dan harapannya tak berorientasi AKU, tapi MEREKA, anak-anak muda Indonesia yang mesti tumbuh berkembang jiwa-jiwa kepemimpinannya. Hidup yang merdeka adalah ciri seorang guru pemimpin. Mereka tak takut dengan atasan. Mereka tak silau dengan harta dan jabatan. Hanya satu yang mereka takutkan, cara berpikir dan bersikapnya jauh dari nilai-nilai kebenaran.

Satu hal yang patut dicermati, guru memang takkan pernah jadi pemimpin jika dia miskin integritas. Karena miskin integritas, guru tak memiliki karisma dan inspirasi di mata murid-murid.  Jika guru sudah tak inspiratif bagi murid, maka konsepsi guru sebagai sosok pemimpin memang hanya akan menjadi wacana saja. Guru juga butuh figur pemimpin yang setia memberikan keteladanan. Tak lupa system yang mendukung mewudnya karakter kepemimpinan guru. Pak Sidharta Susila dalam gagasannya menjelaskan bahwa kita mesti menciptakan ruang istimewa untuk memupuk benih karakter kepemimpinan anak-anak kita, calon pemimpin masa depan Indonesia. Sekolah adalah ruang berperistiwa yang bisa dimanfaatkan guru untuk mendidik calon-calon pemimpin. Sayangnya ruang berperistiwa ini tak dikawal system dan orang berkarakter pemimpin. Tapi pimpinan yang lebih nyaman memanipulasi dari pada mendorong semua sumber daya yang dimiliki sekolah.

Tentunya kita sebagai seorang muslim pasti butuh bekal yang cukup banyak untuk hidup yang hakiki kelak di akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat ada pada profesi guru. Selain mendapat penghargaan di dunia, guru juga mendapat balasan kelak di akhirat. Karena guru merupakan pengemban amanah para nabi dan orang-orang shalih. Orang yang mengikuti jejak langkah para nabi dan orang-orang shalih tidak lain balasannya adalah surga.

Banggalah kita yang sekarang menjadi guru, sebagai pewaris para nabi dan diberikan ilmu oleh sang pemberi ilmu. Itulah beberapa alasan kenapa sekarang aku bangga menjadi guru, memilih guru sebagai profesi utama. Karena sebenarnya tanpa kita sadari, setiap hari kita adalah guru, yang membedakan adalah kita berada dalam system atau tidak, dan guru menurutku adalah profesi terbaik. Allah pun telah berjanji dalam kitabnya akan mengangkat derajat yang beriman dan orang-orang yang berilmu.

Saya berharap semoga Allah selalu membimbing saya dan semua guru, menjadi guru sebagai profesi terbaik dan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Minggu, 27 Januari 2013

7 Pertimbangan dalam Memilih Sekolah untuk Anak

Setiap orang tua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Pendidikan adalah 'investasi jangka panjang' untuk kesuksesan anak di masa datang. Oleh sebab itu orang tua tidak akan sembarangan dalam memilih sekolah untuk anaknya.

Orang tua rela membayar mahal demi meraih pendidikan yang berkualitas. Namun, sebenarnya apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak Anda? Menurut Psikolog dan pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, dikutip dari Kompas.com, Setidaknya ada 7 kriteria yang menjadi acuan orang tua dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak.
  1. Lihat visi misi sekolah tersebut. Visi misi sekolah akan menentukan kurikulum yang digunakan. Sesuaikah visi misi sekolah tersebut dengan pandangan pendidikan di keluarga dan harapan orangtua?
  2. Pertimbangkan sekolah bagus dengan tenaga pengajar yang bagus juga. Guru adalah ujung tombak yang menentukan anak akan belajar dan bermain dengan menyenangkan atau tidak.
  3. Perhatikan kondisi sekolah dan lingkungan di sekitarnya, termasuk kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah. Cukupkah untuk mendukung proses belajar-mengajar yang menyenangkan bagi anak?
  4. Perhitungkan jarak sekolah dari rumah. Jangan sampai terlalu jauh sehingga anak lelah di jalan dan tidak semangat belajar.
  5. Kenali karakter anak dan kebutuhannya untuk menentukan sekolah yang sesuai dengan anak. Misalnya, anak yang suka bergerak cocok disekolahkan di sekolah alam.
  6. Pengenalan akan karakter dan kebutuhan juga membantu mengenali durasi bersekolah dan komposisi durasi pengajaran di sekolah, misalnya dengan untuk menentukan butuh sekolah dengan durasi yang lebih banyak waktu bermain atau belajar.
  7. And last but not least, pikirkan matang-matang kemampuan finansial Anda untuk membayar segala biaya yang dibutuhkan, baik uang pangkal maupun uang bulanan ke depannya. Pastikan Anda memiliki sumber-sumber dana yang cukup untuk konsisten membayar ke depannya.

Biaya yang mahal belum tentu menetukan kualitas sekolah. Di masa sekarang ini, dalam memilih sekolah tidak hanya sekedar fasilitas sekolah yang serba tersedia, orang tua juga harus cermat dan cerdas dalam memilihkan sekolah untuk anaknya tersayang. Sekolah yang tepat akan memberikan dampak yang besar bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak.

Selain mempertimbangkan tujuh kriteria di atas, orang tua juga harus melibatkan anak dalam meilih sekolah. Orang tua mengetahui kriteria apa yang patut dipertimbangkan dan mengenali lebih dulu kebutuhan anak-anak dalam pendidikan. Caranya, anak diberikan hak bersuara untuk menentukan sekolah yang menyenangkan baginya untuk belajar dan bermain.